Google

Welcome Note

This site/blog will tell the world more about my lovely son, named Agus Surya Yoewira or Yoe Wen Yang (his Chinese name). Beside uploading his photos and stories, I will also quote nice, spiritual and touching stories or articles from other resources. Hope this site/blog will be inspiring and useful for other moms in this world.
(Indonesian: Site/blog ini kupersembahkan oentoek putraku terkasih, Agus Surya Yoewira/Wen Yang. Walaupun tidak detail amat, akan selalu kutuliskan perkembangan dia baik melalui tulisan, cerita atau foto-foto. Selain itu ada macam-macam puisi, tantra, kalimat indah dan artikel-artikel yang semoga dapat berguna dan menjadi inspirasi bagi yang membacanya)

MY OATH TO YOU

When you are sad, ………………. I will dry your tears
When you are scared, …………….. I will comfort your fears
When you are worried, …………… I will give you hope
When you are confused, ………….. I will help you cope
And when you are lost, …………… and cant’t see the light, I shall be your beacon….Shining ever so bright.
This is my oath………… I pledge till the end. Why you may ask? ……………… Because you’re my son.


FAMILY = (F)ATHER (A)ND (M)OTHER (I) (L)OVE (Y)OU

Surya's reply :-D

Every love that you've been given to me
will never ever go away
coz your loves are
my spirit .......
my light ........
my destination ......
my guide ...........
and
my everything......

LOVE YOU, MOMMY.... !!!

Surya's Slide Show! (new born until 2 years old)

What Agussuryayoewira Means
You are usually the best at everything ... you strive for perfection.
You are confident, authoritative, and aggressive.
You have the classic “Type A” personality.

You are deeply philosophical and thoughtful. You tend to analyze every aspect of your life.
You are intuitive, brilliant, and quite introverted. You value your time alone.
Often times, you are grumpy with other people. You don't appreciate them trying to interfere in your affairs.

You are a very lucky person. Things just always seem to go your way.
And because you're so lucky, you don't really have a lot of worries. You just hope for the best in life.
You're sometimes a little guilty of being greedy. Spread your luck around a little to people who need it.

You are the total package - suave, sexy, smart, and strong.
You have the whole world under your spell, and you can influence almost everyone you know.
You don't always resist your urges to crush the weak. Just remember, they don't have as much going for them as you do.

You are wild, crazy, and a huge rebel. You're always up to something.
You have a ton of energy, and most people can't handle you. You're very intense.
You definitely are a handful, and you're likely to get in trouble. But your kind of trouble is a lot of fun.

You are a free spirit, and you resent anyone who tries to fence you in.
You are unpredictable, adventurous, and always a little surprising.
You may miss out by not settling down, but you're too busy having fun to care.

You are well rounded, with a complete perspective on life.
You are solid and dependable. You are loyal, and people can count on you.
At times, you can be a bit too serious. You tend to put too much pressure on yourself.

You are friendly, charming, and warm. You get along with almost everyone.
You work hard not to rock the boat. Your easy going attitude brings people together.
At times, you can be a little flaky and irresponsible. But for the important things, you pull it together.

You are very charming... dangerously so. You have the potential to break a lot of hearts.
You know how what you want, how to get it, and that you will get it.
You have the power to rule the world. Let's hope you're a benevolent dictator!

You tend to be pretty tightly wound. It's easy to get you excited... which can be a good or bad thing.
You have a lot of enthusiasm, but it fades rather quickly. You don't stick with any one thing for very long.
You have the drive to accomplish a lot in a short amount of time. Your biggest problem is making sure you finish the projects you start.

Tips agar tulisan si buah hati tidak jelek :)

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Nah, agar tulisan si buah hati tidak jelek, kita dapat melakukan cara-cara berikut ini:

1. Bimbing dan dampingi anak saat keterampilan menulisnya mulai dibentuk.

2. Jika anak melakukan kesalahan, perbaiki segera.

3. Analisa dengan tepat problem anak. Mungkin anak sudah mampu mengeja dengan baik, namun tidak mampu mengikuti kecepatan si pendikte sehingga tulisannya menjadi buruk dan tidak terbaca.

4. Pasang contoh tulisan yang benar di meja anak sehingga ia bisa langsung membandingkan dan mengoreksi kesalahan tulisannya.

5. Lakukan latihan berulang kali. Namun tetap batasi karena latihan dalam jumlah banyak dan ekstra intensif tak terbukti dapat memperbaiki tulisan anak.

6. Lakukan aktivitas pendukung untuk melatih koordinasi dan keterampilan sensor motorik, seperti menggunting, menempel, tracing (menelusuri titik atau garis), mewarnai, finger painting.

7. Perhatikan pula posisi anak saat menulis. Tinggi kursi dan meja harus nyaman, sesuai dengan tinggi badan anak dan kaki anak bisa menjejak di lantai.

8. Jika anak belum mahir memegang alat tulis, berilah alat tulis yang ukurannya agak besar dari standar dan berbentuk segitiga (triangular) agar nyaman dipegang anak. Bisa juga mengakali dengan alat tulis biasa, tapi kita beri isolasi terlebih dahulu di sekeliling alat tulis.

sumber : http://www.tabloid-nakita.com/

Sekilas tentang Pocoyo (film favorit Surya)

Sekilas tentang pocoyo (diambil dari wikipedia):http://www.pocoyo. com/v2/images/ pocoyoenter. jpg

Pocoyo (Pocoyó in Spanish) is a Spanish and Britishpre-schoolanimated cartoon series about a young boy who dresses in blue and who is full of curiosity. Viewers are encouraged to recognise situations that Pocoyo is in, and things that are going on with or around him. Pocoyo's world is set in a 3D space, with a plain white background and has no backdrops. Each character has its own distinctive dance, and most episodes end with the characters dancing.

Karakter2 didalam pocoyo:

Pocoyo: The main character of the series. He is a young boy who is full of curiosity and loves to play games, as well as discover new things. He is always shown wearing blue clothes and a hat. Pato, Elly and Loula are his friends. He is (always) four years old; his "birthday" (when he inevitably turns four again) is October 14.

Pato: Pato is a yellow duck who wears nothing but a small green hat. Pato means duck in Spanish, Portuguese, Tagalog, and Papiamento. A favourite amongst the young children due to his enjoyable dancing. Although friendly, Pato is the most fussy and impatient character (indicated by his beak that bends in an angle when disappointed or shocked); on occasion he completely loses his temper, jumping up and down and quacking furiously. He is also usually used as a jackhammer , missile and also become a helicopter.

Elly: A pink elephant who always wears a blue back-pack, but despite her size she is a graceful and gentle character, capable of ballet dancing. She usually rides around on her scooter.

Loula: Pocoyo's orange-yellow pet puppy and companion.

Sleepy Bird: A teal-colouredbird. She does little but sleep, and usually flies with her eyes closed.

Aliens: Sweet little green beings that Pocoyo finds in space in search of his toy plane.

Baby Bird: The small, screaming baby of Sleepy Bird, who gets into sticky situations from which he is rescued by Pocoyo.

Ball Orchestra: A group of three ball-like creatures who play the trumpet, drums and cymbals.

Butterfly: A very hungry butterfly which Pocoyo occasionally catches.

Caterpillar (Calls Valentina): A yellow caterpillar with a blue bow on top of her head. Speaks in gibberish like Octopus and has the ability to change into a butterfly and back when she wants. (Fred the)

Octopus: A red octopus (although with only 4 legs) who gibbers, and is very fond of singing. He appears in the episodes "Bat and Ball" and "Juggling Balls". As of Season Two, is sometimes referred to as 'Fred'.

Finbar the Horse: A giddy horse which loves to dance.

Music Flower & The Band: Both playmusic which Pocoyo likes.

Whale: A huge whale who Pocoyo meets under the sea.

Artikel Bagus utk menyambut Paskah 2009

RENCANA TUHAN INDAH PADA WAKTUNYA

Ada seorang anak laki-laki yang berambisi bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi jenderal Angkatan Darat. Anak itu pandai dan memiliki ciri-ciri yang lebih daripada cukup untuk dapat membawa nya kemanapun ia mau. Untuk itu ia bersyukur kepada Tuhan, oleh karena ia adalah seorang anak yang takut akan Tuhan dan ia selalu berdoa agar supaya suatu hari nanti impiannya itu akan menjadi kenyataan.

Sayang sekali, ketika saatnya tiba baginya untuk bergabung dengan Angkatan Darat , ia ditolak oleh karena memiliki telapak kaki rata.

Setelah berulang kali berusaha, ia kemudian melepaskan hasratnya untuk menjadi jenderal dan untuk hal itu ia mempersalahkan Tuhan yang tidak menjawab doanya. Ia merasa seperti berada seorang diri, dengan perasaan yang kalah, dan di atas segalanya, rasa amarah yang belum pernah dialaminya sebelumnya.

Amarah yang mulai ditujukannya terhadap Tuhan. Ia tahu bahwa Tuhan ada, namun tidak mempercayaiNya lagi sebagai seorang sahabat, tetapi sebagai seorang tiran (penguasa yang lalim). Ia tidak pernah lagi berdoa atau melangkahkan kakinya ke dalam gereja. Ketika orang-orang seperti biasanya berbicara tentang Tuhan yang Maha Pengasih, maka ia akan mengejek dan menanyakan pertanyaan-pertanya an rumit yang akan membuat orang-orang percaya itu kebingungan.

Ia kemudian memutuskan untuk masuk perguruan tinggi dan menjadi dokter. Dan begitulah, ia menjadi dokter dan beberapa tahun kemudian menjadi seorang ahli bedah yang handal. Ia menjadi pelopor di dalam pembedahan yang berisiko tinggi dimana pasien tidak memiliki kemungkinan hidup lagi apabila tidak ditangani oleh ahli bedah muda ini. Sekarang, semua pasiennya memiliki kesempatan, suatu hidup yang baru.

Selama bertahun-tahun, ia telah menyelamatkan beribu-ribu jiwa, baik anak-anak maupun orang dewasa. Para orang tua sekarang dapat tinggal dengan berbahagia bersama dengan putra atau putri mereka yang dilahirkan kembali, dan para ibu yang sakit parah sekarang masih dapat mengasihi keluarganya. Para ayah yang hancur hati oleh karena tak seorangpun yang dapat memelihara keluarganya setelah kematiannya, telah diberikan kesempatan baru.

Setelah ia menjadi lebih tua maka ia melatih para ahli bedah lain yang bercita-cita tinggi dengan tekhnik bedah barunya, dan lebih banyak lagi jiwa yang diselamatkan. Pada suatu hari ia menutup matanya dan pergi menjumpai Tuhan. Di situ, masih penuh dengan kebencian, pria itu bertanya kepada Tuhan mengapa doa-doanya tidak pernah dijawab, dan Tuhan berkata, "Pandanglah ke langit, anakKu, dan lihatlah impianmu menjadi kenyataan."

Di sana , ia dapat melihat dirinya sendiri sebagai seorang anak laki-laki yang berdoa untuk bisa menjadi seorang prajurit. Ia melihat dirinya masuk Angkatan Darat dan menjadi prajurit. Di sana ia sombong dan ambisius, dengan pandangan mata yang seakan-akan berkata bahwa suatu hari nanti ia akan memimpin sebuah resimen. Ia kemudian dipanggil untuk mengikuti peperangannya yang pertama, akan tetapi ketika ia berada di kamp di garis depan, sebuah bom jatuh dan membunuhnya. Ia dimasukkan ke dalam peti kayu untuk dikirimkan kembali kepada keluarganya. Semua ambisinya kini hancur berkeping-keping saat orang tuanya menangis dan terus menangis.

Lalu Tuhan berkata, "Sekarang lihatlah bagaimana rencanaKu telah terpenuhi sekalipun engkau tidak setuju." Sekali lagi ia memandang ke langit. Di sana ia memperhatikan kehidupannya, hari demi hari dan berapa banyak jiwa yang telah diselamatkannya. Ia melihat senyum di wajah pasiennya dan di wajah anggota keluarganya dan kehidupan baru yang telah diberikannya kepada mereka dengan menjadi seorang ahli bedah.

Kemudian di antara para pasiennya, ia melihat seorang anak laki-laki yang juga memiliki impian untuk menjadi seorang prajurit kelak, namun sayangnya dia terbaring sakit. Ia melihat bagaimana ia telah menyelamatkan nyawa anak laki-laki itu melalui pembedahan yang dilakukannya. Hari ini anak laki-laki itu telah dewasa dan menjadi seorang jenderal. Ia hanya dapat menjadi jenderal setelah ahli bedah itu menyelamatkan nyawanya.

Sampai di situ, Ia tahu bahwa Tuhan ternyata selalu berada bersama dengannya. Ia mengerti bagaimana Tuhan telah memakainya sebagai alatNya untuk menyelamatkan beribu-ribu jiwa, dan memberikan masa depan kepada anak laki-laki yang ingin menjadi prajurit itu.

(Diambil dari Inspirational Christian Stories oleh Vincent Magro-Attard)

Untuk dapat melihat kehendak Tuhan digenapkan di dalam hidup anda, anda harus mengikuti Tuhan dan bukan mengharapkan Tuhan yang mengikuti anda. (Dave Meyer, Life In The Word, Juni 1997)

"Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.... " (Pengkotbah 3:11)
Apa yang kau alami kini,
Mungkin tak dapat engkau mengerti,
Satu hal tanamkan di hati,
Indah semua yang Tuhan beri.
Tuhan-mu, tak akan memberi ular beracun pada yang minta roti, Cobaan yang engkau alami takkan melebihi kekuatanmu.

Jebakan dalam Mengasuh Anak

Jebakan 1 : Melarang Anak
Apa yang mudah kita lakukan saat mendapati anak yang maunya sendiri atau melakukan sesuatu yang kurang sopan? Yang paling mudah adalah melarangnya dengan nada marah. Sebagai orangtua, kita "berkuasa" melarang anak, dengan berbagai macam bentuk dan cara. Atau juga melakukan kebalikannya, misalnya, dengan membiarkan. Sebagai orang dewasa, kita punya pembenaran untuk membiarkan maupun melarang. Yang sulit adalah bagaimana melihat dan menjadikan anak yang banyak maunya sendiri itu sebagai potensi kreativitas dan kemandirian yang perlu diarahkan dan dipupuk. Tapi dia tetap ingin "maunya sendiri dan sulit?" Itu pasti. Untuk menumbuhkan kreativitas dan kemandirian itu pasti tidak sesimpel memotongnya di tengah jalan.

Para pakar psikologi (Human Development: 1989) menyimpulkan bahwa untuk menumbuhkan kreativitas dan orisinilitas anak-anak itu dibutuhkan beberapa penyikapan penting, antara lain:

  • Menghormati hak anak untuk menginisiatifkan cara belajar yang pas untuk dirinya
  • Menghormati hak anak untuk ingin tahu dan mengalami
  • Menghormati hak anak untuk menolak / menerima berbagai masukan setelah mempertimbangkannya
  • Mendorong anak untuk lebih merasa tertantang dalam menghadapi masalah
  • Memberikan kesempatan untuk berkreasi
Jebakan 2 : Membandingkan anak
Apa yang mudah kita lakukan saat mendapati si anak punya prestasi sekolah yang tidak sama dengan adik atau kakaknya, lebih-lebih ditambah lagi dengan kebiasaannya yang suka melawan? Biasanya paling gampang adalah memberi judgment bahwa dia memang lain, terbelakang atau nakal, tidak seperti adik atau kakaknya yang pintar; Atau dengan memberikan permakluman bahwa memang dia sudah seperti itu dari sono-nya.

Yang sulit adalah bagaimana menemukan kelebihan yang tersembunyi sehingga kita tetap punya opini dan alasan positif untuk memperlakukannya secara positif. Tidak semua anak langsung ketahuan kelebihannya dengan jelas. Kita bisa membayangkan bagaimana seandainya ibunya Edison itu termakan oleh omongan guru sang anak yang menyimpulkan si anak terbelakang? Untunglah si ibu tidak percaya dan melakukan hal-hal penting untuk membuktikan keyakinannya.

Jebakan 3 : Memanjakan anak
Apa yang mudah kita lakukan ketika punya materi berlebih dan kita pun punya idealisme untuk memiliki anak agar dapat mewarisi kekayaan dan kebesaran kita? Yang paling mudah adalah memberikan daftar kepada anak tentang sejumlah kursus yang harus dimasuki dan seperangkat disiplin yang berisi perintah dan larangan. Atau juga melakukan sebaliknya, memanjakannya dengan berbagai fasilitas sampai membuat si anak tidak tahu lagi bagaimana mencuci piring dan tidak pernah menginjak dapur.

Yang sulit adalah bagaimana memfasilitasi proses perkembangan atas berbagai kapasitas yang seharusnya dibutuhkan anak di tengah-tengah kemakmuran dan kemanjaan (aktualisasi diri) sehinggan anak tetap memiliki kepekaan, ketahanan, dan anti mengandalkan. Di kampung-kampung kita dulu muncul stigma seolah-olah kalau orangtua itu semakin jaya, anaknya semakin tidak benar. Karena itu ada ungkapan: "generasti pertama membangun, generasi kedua merusak." Tapi, dengan pengetahuan dan kesadaran, stigma itu sudah mulai dilawan oleh realitas. Banyak orangtua yang bagus dan bagus pula dalam mendidik anaknya.

Itulah beberapa hal yang bisa kita sebut sebagai jebakan ekstrimitas dalam parenting. Kita cenderung memilih hal-hal mudah dengan cara terlalu membebaskan atau terlalu mengekang. Padahal hal-hal mudah itu tidak selamanya memberikan akibat yang mudah dihadapi. Apa akibatnya? Tergantung pada perjalanan hidup si anak. Kalau nanti si anak mendapatkan "hidayah", ia akan berinisiatif melakukan perbaikan dengan melakukan kebalikanya. Contohnya banyak kita temukan dari kehidupan para nabi atau orang biasa yang hebat. Tapi bila tidak, si anak akan membawa pengaruh itu ke dalam kultur hidupnya.

Inilah yang kita kenal dengan istilah bawaan (trait). Bawaan ini ada yang positif dan ada yang negatif. Bawaan ini merupakan bagian dari diri seseorang yang sulit diubah, bukan karena faktor genetik, tapi karena sudah terlalu melekat. Karena itu kita temukan ada kemalasan bawaan dan kemalasan keadaan (misalnya karena gagal usaha, dimarahi, atau mood jelek).

Kemalasan keadaan itu umumnya mudah diatasi. Ada cinta ilmu bawaan dan ada cinta karena keadaan. Cinta bawaan akan membuat seseorang tidak merasa bahagia kalau ilmunya tidak bertambah meskipun kekayaannya bertambah. Karena tidak ada orangtua dan perjalanan anak yang sempurna, maka Tuhan memberikan fasilitas tambahan untuk perbaikan. Misalnya saja problem, krisis, musibah, dan hal-hal yang tidak kita inginkan lainnya. Konon, Mas Iwan Fals dulu menjadi proses parenting yang relatif "mudah". Ketika musibah terjadi, ia jadikan musibah itu sebagai perubahan ke arah yang lebih baik."Setiap anak terlahir jenius, tetapi kita memupuskannya dalam enam bulan pertama."(Buckminster Fuller)

Beberapa Gaya ParentingDiana Baumrind (1978) mengkelompokkan berbagai gaya parenting di dunia ini menjadi empat:

1. Authoritatif
Orangtua yang otoritatif memberikan arahan yang kuat pada seluruh aktivitas anak, namun tetap memberikan wilayah yang bebas ditentukan si anak. Orangtua dulu menjelaskannya dengan ungkapan: "pegang kakinya namun biarkan kepalanya bergerak". Mekanisme kontrol yang dipakai tidak kaku, tidak mengancamnya dengan hukuman, dan menghilangkan batasan-batasan yang tidak terlalu penting. Orangtua berusaha memberikan perhatian supaya anak memahami hal yang mendasar sebagai hal yang mendasar dan memahami hal yang tidak mendasar sebagai hal yang tidak mendasar.

2. Authoritarian
Orangtua yang authoritarian berusaha membentuk anak, mengontrol seluruh aktivitas anak berdasarkan nilai-nilai tradisional yang berlaku dalam keluarga, dan memberikan standar prilaku yang baku. Orangtua memegang kepalanya dan sekaligus kakinya. Orangtua lebih sering memberikan tekanan, kewajiban, menuntut ketaatan penuh, dan memberikan ancaman hukuman. Orangtua melihat anaknya adalah makhluk yang ia miliki sepenuhnya dan ingin dibentuk sesuai dengan keinginannya.

3. Permissive
Orangtua yang permisif cenderung mencari aman, menghindari hal-hal yang sulit, menerima atau mengikuti apa kemauan si anak secara utuh. Orangtua permisif membolehkan apa yang dinginkan anak. Anak diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengontrol tindakannya. Posisi orangtua di sini sebagai penegas saja atas apa yang dikonsultasikan anak kepadanya. Kalau anak bertanya boleh nggak minum es pada saat dia pilek, si orangtua bilang ya. Jawaban ya di situ karena orangtua tidak mau pusing mendengar anaknya menangis.

4. Neglectful
Orangtua yang neglectful di sini derajatnya lebih dari permisif. Kalau di permisif masih ada keterlibatan interaksi, tetapi untuk yang neglectful ini, orangtua sama sekali tidak terlibat kecuali sebatas memberikan kebutuhan fisik lahiriah si anak, seperti makan, minum, pakaian, atau obatan-obatan. Gaya neglectful ini sangat mudah diterapkan oleh orangtua yang bercerai atau yang sudah tidak harmonis lagi. Si ayah atau si ibu hanya berpatokan pada bukti transfer uang atau kirim wesel ke sebuah pesantren, ke kakek neneknya, atau ke sekolah berasrama lainnya.

Secara hitam putih teori, gaya yang paling bagus adalah yang pertama, otoritatif. Orangtua memberikan arahan, patokan dan pedoman yang jelas dan tegas, namun soal tehniknya dikembalikan ke anak dengan bimbingan dan pengembangan. Apa ada orangtua yang bisa begini seratus persen dan tidak pernah terjebak ke gaya lain? Kalau di prakteknya, mungkin kita bisa bersepakat mengatakan tidak ada orangtua yang bisa melakukan itu. Pasti pernah ada melesetnya.Karena itu disebutnya sebagai gaya (style).

Gaya kita bukanlah diri kita seutuhnya, melainkan diri kita pada mayoritasnya. Dan yang paling penting lagi adalah tujuan akhirnya. Mungkin kita harus permisif, namun itu kita jadikan sebagai perantara untuk menjadi otoritatif. Mungkin kita harus otoritarian, namun tujuan kita akhirnya adalah otoritatif.

"Hadapilah sesuatu yang terus berubah denganmelakukan perubahan yang terus menerus."(Tao)

Tiga Prinsip Menjadi Otoritatif:


Dewasa kini sudah banyak dikembangkan berbagai tips, trik, dan teknik parenting. Ini bisa kita baca di buku, majalah, koran, internet, dan lain-lain. Namun kalau menelaah ke prakteknya, berbagai tips itu tidak bisa menggantikan sejumlah prinsip mendasar, yang jumlahnya tidak banyak, dan umumnya sudah kita ketahui. Prinsip itu mutlak dijalankan dan tidak ada penggantinya. Peranannya mirip seperti rukun dalam ibadah yang tidak bisa di-copy-paste atau membayar orang lain. Apa saja prinsip itu?

Di antaranya adalah:

1. Kreatif - Di lapangan, pasti ada perlawanan dan perdebatan. Kita sudah memberi arahan dan pedoman, misalnya jangan membeli sesuatu yang kegunaannya sedikit atau mubadzir. Tetapi si anak tetap tidak mau peduli. Jika kita kasih masukan yang lembut, dia tidak mendengar, tapi kalau kita kasih yang keras, kita takut memotong inisiatif. Bagaimana seperti ini?Di sinilah pentingnya kreativitas. Artinya, kita perlu merasa tertantang untuk memunculkan berbagai ide, cara, penyikapan, dan perlakuan agar si anak tetap pada pedoman utama, namun tetap memperhatikan hak dia untuk berinisiatif atau mengambil keputusan. Rasa tertantang di sini menjadi kunci, sebab kalau ini hilang, kita akan cenderung menggunakan jurus yang mudah, yaitu menang-kalah. Kalau mau main kalah-menang, kita pasti menang.

2. Sabar - Sabar di sini tentunya bukan membiarkan. Membiarkan adalah kelemahan, sedangakan kesabaran adalah kekuatan. Sabar adalah konsistensi untuk mengupayakan hal-hal yang baik atau yang bermanfaat lebih banyak, meskipun kita menghadapi penolakan atau hasilnya belum ketahuan. Pesan agama yang paling mendasar tentang kesabaran adalah jangan sampai kita memberikan reaksi negatif atas realitas permukaan. Reaksi ini sangat terkait dengan pemahaman.Misalnya saja kita merasa bahwa pola asuh yang sudah kita perjuangkan sebegitu rupa selama ini tidak memberikan diferensiasi apa-apa pada anak kita. Menurut kita, biasa-biasa saja atau sama seperti anak orang lain yang diasuh secara ekstrim, dan semisalnya. Perasaan seperti ini bisa menggagalkan konsistensi kita. Padahal, secara konsepnya, semua orang punya kapasitas untuk menjadi konsisten asalkan terus mengembangkan kemampuannya dalam melihat dan memahami realitas ke tingkat yang lebih substansial atau esensial.Kalau melihat bukti-bukti dari realitas yang lebih esensial, pola asuh tertentu itu pasti menghasilkan pribadi anak yang tertentu juga. Bahwa ada perbedaan yang cepat kelihatan dan ada yang lambat, ini soal proses dan keunikan juga. Ibarat orang yang menanam benih, tentu saja tergantung benihnya. Kalau yang kita tanam kelapa, pasti lama. Intinya, tanpa kesabaran kita akan gagal menjadi otoritatif meskipun sudah menerapkan berbagai tip.

3. Peduli - Semua orangtua punya naluri untuk peduli pada anak. Bedanya, ada kepedulian yang digerakkan oleh dorongan untuk memenuhi kebutuhan anak berdasarkan perkembangannya. Orangtua melihat perkembangan anak lalu hasilnya digunakan untuk memberi sesuatu. Ada kepedulian yang digerakkan oleh keinginan subyektif orangtua saja. Orangtua memberi si anak tanpa / kurang melihat kebutuhannya. Ada juga kepedulian yang dikalahkan oleh egoisme, kemarahan, dan rasa malu sehingga tampilannya menjadi tidak peduli. Untuk menjadi otoritatif, peduli yang paling dibutuhkan adalah peduli yang dihasilkan dari bacaan kita terhadap perkembangan anak. Semoga bisa kita praktekkan."Awal dari permulaan yang baik seringkalitidak bisa dibedakan oleh mata lahiriah"

sumber : e-psikologi

Inspiring Stories - Chain of Kindness

Pada suatu hari seorang pria melihat seorang wanita lanjut usia sedang berdiri kebingungan di pinggir jalan. Meskipun hari agak gelap, pria itu dapat melihat bahwa sang nyonya sedang membutuhkan pertolongan. Maka pria itu menghentikan mobilnya di depan mobil Benz wanita itu dan keluar menghampirinya.

Mobil Pontiac-nya masih menyala ketika pria itu mendekati sang nyonya. Meskipun pria itu tersenyum, wanita itu masih ketakutan. Tak ada seorangpun berhenti menolongnya selama beberapa jam ini. Apakah pria ini akan melukainya? Pria itu kelihatan tak baik. Ia kelihatan miskin dan kelaparan.

Sang pria dapat melihat bahwa wanita itu ketakutan, sementara berdiri disana kedinginan. Ia mengetahui bagaimana perasaan wanita itu. Ketakutan itu membuat sang nyonya tambah kedinginan.

Kata pria itu, "Saya di sini untuk menolong anda, Nyonya. Masuk ke dalam mobil saja supaya anda merasa hangat! Ngomong-ngomong, nama saya Bryan Anderson."Wah, sebenarnya ia hanya mengalami ban kempes, namun bagi wanita lanjut seperti dia, kejadian itu cukup buruk.


Bryan merangkak ke bawah bagian sedan, mencari tempat untuk memasang dongkrak. Selama mendongkrak itu beberapa kali jari-jarinya membentur tanah. Segera ia dapat mengganti ban itu. Namun akibatnya ia jadi kotor dan tangannya terluka. Ketika pria itu mengencangkan baut-baut roda ban, wanita itu menurunkan kaca mobilnya dan mencoba ngobrol dengan pria itu. Ia mengatakan kepada pria itu bahwa ia berasal dari St. Louis dan hanya sedang lewat di jalan ini. Ia sangat berutang budi atas pertolongan pria itu.

Bryan hanya tersenyum ketika ia menutup bagasi mobil wanita itu. Sang nyonya menanyakan berapa yang harus ia bayar sebagai ungkapan terima kasihnya. Berapapun jumlahnya tidak menjadi masalah bagi wanita kaya itu. Ia sudah membayangkan semua hal mengerikan yang mungkin terjadi seandainya pria itu tak menolongnya.

Bryan tak pernah berpikir untuk mendapat bayaran. Ia menolong orang lain tanpa pamrih. Ia biasa menolong orang yang dalam kesulitan, dan Tuhan mengetahui bahwa banyak orang telah menolong dirinya pada waktu yang lalu. Ia biasa menjalani kehidupan seperti itu, dan tidak pernah ia berbuat hal sebaliknya.

Pria itu mengatakan kepada sang nyonya bahwa seandainya ia ingin membalas kebaikannya, pada waktu berikutnya wanita itu melihat seseorang yang memerlukan bantuan, ia dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan kepada orang itu, dan Bryan menambahkan, "Dan ingatlah kepada saya. "Bryan menunggu sampai wanita itu menyalakan mobilnya dan berlalu.

Hari itu dingin dan membuat orang depresi, namun pria itu merasa nyaman ketika ia pulang ke rumah, menembus kegelapan senja. Beberapa kilometer dari tempat itu sang nyonya melihat sebuah kafe kecil. Ia turun dari mobilnya untuk sekedar mencari makanan kecil, dan menghangatkan badan sebelum pulang ke rumah.

Restoran itu nampak agak kotor. Di luar kafe itu ada dua pompa bensin yang sudah tua. Pemandangan di sekitar tempat itu sangat asing baginya. Sang pelayan mendatangi wanita itu dan membawakan handuk bersih untuk mengelap rambut wanita itu yang basah. Pelayan itu tersenyum manis meskipun ia tak dapat menyembunyikan kelelahannya berdiri sepanjang hari.


Sang nyonya melihat bahwa pelayan wanita itu sedang hamil hampir delapan bulan, namun pelayan itu tak membiarkan keadaan dirinya mempengaruhi sikap pelayanannya kepada para pelanggan restoran. Wanita lanjut itu heran bagaimana pelayan yang tidak punya apa-apa ini dapat memberikan suatu pelayanan yang baik kepada orang asing seperti dirinya.

Dan wanita lanjut itu ingat kepada Bryan. Setelah wanita itu menyelesaikan makanannya, ia membayar dengan uang kertas $ 100. Pelayan wanita itu dengan cepat pergi untuk memberi uang kembalian kepada wanita itu. Ketika kembali ke mejanya, sayang sekali wanita itu sudah pergi. Pelayan itu bingung kemana perginya wanita itu. Kemudian ia melihat sesuatu tertulis pada lap di meja itu. Ada butiran air mata ketika pelayan itu membaca apa yang ditulis wanita itu: "Engkau tidak berutang apa-apa kepada saya.. Saya juga pernah ditolong orang.

Seseorang yang telah menolong saya, berbuat hal yang sama seperti yang saya lakukan. Jika engkau ingin membalas kebaikansaya, inilah yang harus engkau lakukan: 'Jangan biarkan rantai kasih ini berhenti padamu.'"Di bawah lap itu terdapat empat lembar uang kertas $ 100 lagi.

Wah, masih ada meja-meja yang harus dibersihkan, toples gula yang harus diisi, dan orang-orang yang harus dilayani, namun pelayan itu memutuskan untuk melakukannya esok hari saja. Malam itu ketika ia pulang ke rumah dan setelah semuanya beres ia naik ke ranjang. Ia memikirkan tentang uang itu dan apa yang telah ditulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita baik hati itu tahu tentang berapa jumlah uang yang ia dan suaminya butuhkan? Dengan kelahiran bayinya bulan depan, sangat sulit mendapatkan uang yang cukup. Ia tahu betapa suaminya kuatir tentang keadaan mereka, dan ketika suaminya sudah tertidur di sampingnya, pelayan wanita itu memberikan ciuman lembut dan berbisik lembut dan pelan, "Segalanya akan beres. Aku mengasihimu, Bryan Anderson!"

Ada pepatah lama yang berkata, "Berilah maka engkau diberi." Hari ini saya menampilkan kisah menyentuh ini dan saya harapkan anda meneruskannya. Biarkan terang kehidupan kita bersinar. Jangan hapus kisah ini, jangan biarkan saja! Kirimkan kepada teman-teman anda! Teman baik itu seperti bintang-bintang di langit. Anda tidak selalu dapat melihatnya, namun anda tahu mereka selalu ada.. Tuhan memberkati anda!

Tips agar Anak cerdik dan Tangguh (by Krishnamurti)

“Mengapa monyet kurus jelek ini mahal sekali?”
Tanya seorang pembeli kepada penjaga toko Pet Shop. Dan, langsung dilanjutkan dengan kalimat: “Sedangkan monyet yang lebih besar itu harganya hanya Rp. 100.000,- saja padahal lancar mengetik. Malahan, monyet di sebelahnya lagi lebih murah tuh. Bisa nyanyi lagi…”

Si penjaga toko menjawab: “Mengapa monyet yang dua ini lebih murah harganya, dibanding dengan monyet kurus jelek itu, yang harganya mencapai Rp. 1 juta,- walau tidak bisa mengetik dan menyanyi. Karena hanya monyet yang kurus ini, yang bisa menyuruh ke dua monyet lainnya itu, untuk mengetik dan menyanyi….”

“Oooh, gitu…” gumam si calon pembeli, sambil melanjutkan: “Pantesan mahaaal….”

Itulah Leader
Seorang leader mungkin saja tidak bisa mengetik.
Seorang leader mungkin saja tidak bisa menembak jitu.
Seorang leader mungkin saja tidak bisa menghafal dengan baik.
Seorang leader mungkin saja tidak bisa dan tidak tahu NLP, Hypnosis dan sebagainya…

Namun, intinya adalah leader bisa “menyuruh”, mengajak (influence), mempengaruhi, menggerakkan atau “mengapusi” (membohongi) orang lain untuk melakukan sesuatu. Baik disadari ataupun tidak disadari orang lain saat melakukan ajakannya. Lupakan sejenak, leader yg baik atau leader yg buruk, karena bukan itu konteks dari tulisan ini.

Seorang leader sangat mahir mem-pacing dan me-leading orang lain untuk melakukan apa yang diinginkannya, baik karena tujuan mereka sama, ataupun hanya untuk kepentingan leader tersebut.

Pertanyaan berikutnya, mana yang harus kita pilih untuk mendidik anak-anak kita?

Jadi orang CERDAS atau CERDIK?

Melatih anak-anak menjadi cerdas itu sangatlah mudah. Apalagi dengan teknik-teknik NLP, sungguh sangat banyak strategi untuk mencetak anak-anak cerdas. Misalnya teknik cara mengingat, bisa diajarkan dalam 5-10 menit saja.

Teknik cara menghafal, bahkan saya sering mengajarkan anak-anak sekolah cara “menyontek” yang aman ha ha ha… Tentunya bukan dengan “kepekan”, tapi dengan menghafal buku secara imajiner. Dan, saat ujian, mereka hanya perlu membuka buku di halaman tertentu yang sesuai dengan jawaban dari soal, persis seperti membuka buku, namun secara imajiner. Seakan-akan ada buku di depannya. Asyik, bukan? Idenya sederhana, dari memodel MIND MAP-nya Bapak Tony Buzan yang saya kembangkan sendiri.

Banyak sekali teknik untuk melatih anak menjadi cerdas, namun melatih anak menjadi cerdik, tentu tidak mungkin dengan membaca buku. Gimana caranya? Aneh banget, ada anak cerdik karena membaca buku he he he… Untuk ide atau inspirasi, okelah. Namun, untuk situasi nyata, sebaiknya anak tersebut…

Dilatih dengan tantangan

Ya, ditantang agar otaknya mendapat stimulus, rangsangan, sehingga otak mereka akan terus aktif merespon, membuat respon baru, memilih respon, mencari ide baru, mencari solusi baru dan sebagainya. Nah, bagaimana membuat tantangan? Mudah sekali… berikut ini beberapa ide.

1. Tantangan yang menekan
Misalnya melakukan atau mengerjakan sebuah kegiatan yang dibatasi oleh waktu yang sempit. Buat tantangannya dari waktu yang lebih longgar dulu, lalu terus tingkatkan tekanannya ke waktu yang sangat ketat. Amati responnya, bagaimana si anak merespon saat tertekan, saat stres, apakah dia bisa tetap tenang, apakah dia menyerah, apakah dia memiliki daya tahan baik saat ditekan?

Bentuk kegiatan, bisa olah raga, permainan atau yang lainnya. Belajar di keramaian, saat dia belajar, Anda putar musik yang keras dan sebagainya.

2. Tantangan yang membosankan
Rancanglah secara sengaja sebuah situasi yang menimbulkan kebosanan, kebingungan, gak tahu mesti ngapain, lalu amati apa yang dilakukan si anak saat mengalami hal tersebut. Ada idenya? Bagaimana responnya dengan situasi yang monoton?

Ciptakan tantangan-tantangan lainnya, yang baru, yang unik, yang disesuaikan dengan kondisi situasi saat ini, saat main internet, listrik dipadamkan, apa responnya? Kalo dia teriak minta dinyalakan, coba lakukan saat Anda berada diluar rumah, apa responnya?
Jika tidur selalu menggunakan AC, sekali-sekali dimatikan (dirusak secara sengaja) dan amati apa responnya? Masih banyak sekali ide lainnya, silahkan Anda kembangkan sendiri. Yang paling penting adalah…

Anak manusia tuh Canggih

Ingat, mindset dasarnya adalah si anak bisa dilatih untuk menyikapi, mengatasi situasi apapun. Karena anak manusia sangatlah adaptif. Semakin si anak fleksibel dalam sebuah situasi yang berubah-rubah, maka si anak dapat dikatakan sebagai anak cerdik. Lalu, apa kunci sukses dari sebuah tantangan?

Curiousity: Kunci Sukses Tantangan
Betul-betul, Anda harus kreatif, jeli, pintar untuk membangunkan dulu rasa ingin tahu si Anak. Curiousity. Semakin besar rasa ingin tahu si anak, bisa dibangun, semakin baik hasilnya. Dan, curiousity-lah yang menjadi dasar penemuan NLP di dunia ini. Ya, karena ada rasa ingin tahu yang sangat besar dari DR Bandler dan DR Grinder.

Cinta adalah Kunci Terpenting!
Amati betul, bagaimana situasi emosi si anak saat itu, sebelum tantangan diberikan. Jangan sampai salah strategi. Si Anak sedang sakit, sedang down, Anda teriak-teriak. Hasilnya bisa baik, bisa juga buruk. Juga, ada baiknya Andapun menguasai teknik-teknik untuk recovery mental, jika terjadi sesuatu yang membuat anak tersebut kaget banget atau shock he he he…

Yang mana cara yang paling tepat? Cara yang paling baik? Cara yang paling benar?
Tidak tahu, yakini saja selama Anda memang secara sengaja merancang dan ingin melatih anak Anda dengan NIAT TULUS, dengan CINTA, dengan SAYANG, yakinlah hasinya akan BAIK juga. Yakinlah TUHAN akan merestui NIAT TULUS Anda terhadap manusia kecil titipanNYA ini. Teknik dan Cara akan menyusul dengan sendirinya. Gak usah terlalu dipikirin…

Demikian catatan ringan ini, yang saya sarikan selama setahun terakhir keliling Indonesia bersama Shahnaz Haque, Prof Arief dan teman-teman Psikolog, juga para Ahli Gizi untuk berbagi kepada para orang tua dalam mendidik anak mereka menjadi ANAK TANGGUH!

Jakarta, 18 Maret 2009 jam 01:45 menulis karena ada misi yang terbangkitkan…
Krishnamurti Mindset Motivator

"The Law of Garbage Truck" (Hukum Truk Sampah)

Seberapa sering Anda membiarkan orang lain mengubah mood Anda? Apakah Anda membiarkan supir bemo yang sembrono, pelayan yang kasar, bos yang emosi, atau rekan kantor yang tidak berperasaan --- menghancurkan hatimu? Terkecuali kalau Anda adalah robot; mungkin tanpa sadar seringkali Anda membalas memaki/memarahi mereka. Namun, CIRI KHAS dari orang yang sukses adalah seberapa cepat dia dapat kembali dia berfokus pada apa yang penting.

Enam belas tahun yang lalu saya mempelajari pelajaran ini.

Saya belajar di bagian belakang dari Taxi New York . Ini yang terjadi. Saya meloncat masuk ke dalam taksi, dan kami berangkat dari Grand Central Station. Kami mengemudi di jalur yang tepat, NAMUN TIBA-TIBA, sebuah mobil hitam melompat keluar dari ruang parkir tepat di depan kita. Supir taxi-ku langsung menghentak rem untuk berhenti mendadak, agak tergelincir sedikit dan hampir saja menabrak/ditabrak mobil lain (tinggal beberapa inchi saja). Ukhh...!!!

Supir mobil hitam itu (orang tadi yang hampir menyebabkan kecelakaan besar) mengeluarkan kepalanya dari mobil dan mulai berteriak kata-kata kasar pada kita. Supir taxi-ku hanya tersenyum dan melambaikan tangan (dengan per-lahan2) kepada orang tadi. Saya kira, supirku ini orang yang ramah. Jadi, saya berkata, "Mengapa Anda lakukan itu? Orang tadi hampir merusak mobilmu dan kita hampir celaka dan masuk Rumah Sakit gara-gara dia!" Dan inilah yang dikatakan supir taxi-ku (yang kemudian ku-sebut sebagai "The Law of Garbage Tuck"/ Hukum Truk Sampah)

Banyak orang-orang seperti truk sampah. Mereka berjalan dengan penuh sampah, penuh dengan frustasi, penuh amarah, dan penuh dengan kekecewaan. Dan ketika sampah-sampah mereka mulai menumpuk, mereka perlu tempat untuk membuangnya. Dan jika Anda membiarkan, mereka akan membanjirkan sampah-sampah tsb pada Anda. Bila seseorang ingin membuang sampah pada Anda, jangan diambil hati (jangan disimpan dalam hati). Anda hanya perlu tersenyum, melambai, dan berharap mereka cepat pulih (membaik), dan Anda tetap melanjutkan pekerjaan Anda.

Hati Anda akan senang setelah melakukannya.

Jadi setelah tahu hal ini: "The Law of Garbage Truck" ("Hukum Truk Sampah"), saya mulai berpikir, seberapa sering saya biarkan "Truk Sampah" mempengaruhi suasana hati saya? Dan seberapa sering saya ambil "sampah" yang dilemparkan orang lain dan menularkannya kepada orang lain di tempat kerja/rumah/ jalanan? Saya pun berjanji, "Saya tidak akan melakukannya lagi."

Seperti di film "The Sixth Sense,", anak kecil tsb berkata, "Saya lihat orang mati." Nah, sekarang "Saya melihat truk sampah." Saya melihat mereka sedang membawa beban. Saya melihat mereka datang untuk menumpahkannya. Dan seperti supir taxi tadi, saya tidak akan memasukkan sampah itu ke dalam hati (I don't make it a personal thing), saya hanya akan tersenyum, melambai, berharap mereka bisa cepat pulih (membaik), dan saya tetap melanjutkan pekerjaanku.

Salah satu pemain football favoritku (Walter Payton) melakukan ini setiap hari di lapangan sepak bola. Dia akan melompat ke atas secepat dia pergi ke tanah (jatuh) setelah digasak/disikut (di-tackle). Ia tidak pernah tetap diam di tanah untuk ditimpa oleh yang lain-lainnya. Payton telah siap untuk melakukan yang terbaik utk aksi berikutnya.

Pemimpin yang bagus -- tahu mereka harus siap untuk pertemuan berikutnya. Semua orang tua tahu bahwa mereka harus menyambut anak-anak (yang bakal pulang sekolah) dengan pelukan dan ciuman.

Pemimpin dan orang tua mengetahui bahwa mereka harus benar-benar hadir, dan pada saat yang terbaik untuk orang-orang yang mereka pedulikan.

Orang yang berhasil --- tidak pernah membiarkan "Truk Sampah" mengambil alih mood mereka. Bagaimana dengan Anda? Apa yang akan terjadi dalam hidup Anda, mulai hari ini, jika anda membiarkan lebih banyak "Truk Sampah" melewati anda?

Ini tebakanku: Anda akan bahagia. Hidup terlalu singkat jika saat bangun di pagi hari kita isi dengan penuh penyesalan, jadi ... Cintai orang-orang yang memperlakukan Anda dengan baik. Dan lupakan hal-hal tentang orang- orang yang tidak berperilaku baik pada Anda.

Take Care!

ANAK MANJA

Pada masa kini pemukulan fisik terhadap anak-anak banyak ditentang. Baik oleh dunia pendidikan modern maupun oleh hukum di negara maju. Di Amerika, hal semacam ini bisa digolongkan sebagai penyiksaan anak. Sekalipun dengan maksud mendidik, jika ada yang melaporkan, maka orangtua yang memukul anaknya bisa dipenjara. Hak anak-anak memang harus dibela dan dilindungi. Akan tetapi, bersikap lunak dan permisif terhadap anak-anak juga ada bahayanya, yaitu bahaya pemanjaan.

Raja Daud punya pengalaman dua kali dikudeta oleh anak-anaknya sendiri, Absalom dan Adonia. Dalam banyak hal lain ia patut diteladani, tetapi tidak dalam hal mendidik anak. Ia terlampau memanjakan mereka. Bahkan dicatat di (1Raja-raja 1:6) bahwa ia tidak pernah menegur Adonia atas semua tindakannya yang salah. Baik Absalom maupun Adonia adalah anak-anak yang elok paras dan perawakannya. Namun, mereka juga adalah anak-anak manja. Sampai tiba saatnya mereka masing-masing justru berkhianat dan membuat kesepakatan untuk menjatuhkan ayahnya dari takhta. Pada waktunya, anak-anak manja akan mendatangkan bencana bagi keluarga dan dirinya sendiri.

Selalu ada alasan untuk memanjakan seorang anak. Entah karena ia anak semata wayang atau anak yang kelahirannya telah lama dinantikan. Entah karena elok parasnya atau justru karena ia memiliki kelemahan fisik yang menonjol. Bisa juga karena ia pernah sakit parah, tetapi sembuh kembali. Namun, apa pun alasannya, memanjakan mereka tetap salah. Mengasihi tidak sama dengan memanjakan. Kasih menegur, mendidik dengan "tongkat".

~~ MENOLAK KEKERASAN TERHADAP ANAK TIDAK BERARTI MENOLAK UNTUK BERSIKAP KERAS DALAM MENDIDIK MEREKA ~~

Surya Yoewira Look-alike Meter

Video clip perkembangan janin (9 months)

Song of today :



George B - Nothings gonna change my love for you